Beyond Investment, Bupati-Wabup Gresik Dorong Investasi Tumbuh Bersama Masyarakat

GRESIK,1minute.id –  Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Gresik untuk membangun iklim investasi yang tidak hanya mengejar besarnya modal yang masuk, tetapi juga memastikan kehadirannya memberi manfaat bagi masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan dalam The 1st Gresik Business Forum bertema “Beyond Investment: Membangun Kemitraan Strategis untuk Masa Depan Gresik” yang digelar Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) pada Kamis, 30 Juli 2026.

Forum ini mempertemukan pemerintah dengan pelaku usaha, asosiasi dunia usaha, kawasan industri, perbankan, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, investasi yang masuk ke Gresik harus dilihat lebih luas dari sekadar angka realisasi. Investasi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM lokal, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Investasi mungkin dimulai dengan angka, tetapi kemitraan dibangun melalui kepercayaan. Investasi menghadirkan proyek, tetapi kemitraan menciptakan masa depan,” ujar Fandi Akhmad Yani.

Hingga semester pertama 2026, realisasi investasi di Kabupaten Gresik telah mencapai sekitar Rp 11,4 triliun. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya mengejar target investasi sebesar Rp 30 triliun pada tahun ini.

Ia mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, menurutnya, Gresik harus mampu memberikan pelayanan dan kepastian terbaik agar tetap kompetitif sebagai tujuan investasi.

Gresik memiliki modal kuat untuk itu. Selain posisi geografis yang strategis, daerah ini ditopang kawasan industri, pelabuhan, ketersediaan energi, air dan gas, serta infrastruktur yang terus dikembangkan.

Namun, Bupati Yani menekankan bahwa kekuatan tersebut harus diikuti dengan kepastian tata ruang dan birokrasi yang responsif. Pemerintah daerah terus mendorong penyelesaian tata ruang agar investor memiliki kepastian mengenai kawasan yang dapat dikembangkan.

“Kita berangkat dari tata ruang karena dari tata ruang itu ada kepastian hukum dalam berinvestasi. Jelas, tidak tumpang tindih, tidak abu-abu,” katanya.

Komitmen yang sama berlaku dalam pelayanan perizinan. Bupati meminta seluruh perangkat daerah memberikan pelayanan yang cepat, terbuka, dan solutif kepada pelaku usaha. “Tidak ada lagi bahasa sulit mengurus perizinan di Kabupaten Gresik. Kalau ada yang kurang, dilengkapi, cepat selesai, keluar. Kalau ada yang lama, silakan ngomong ke saya,” tegas mantan Ketua DPRD Gresik ini.

Bupati Yani juga menekankan bahwa investasi harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pemkab Gresik mendorong kemitraan antara industri dengan UMKM lokal, peningkatan kompetensi tenaga kerja, kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, hingga kolaborasi dalam pengelolaan lingkungan dan sampah.

Salah satu gagasan yang didorong adalah pengembangan platform marketplace UMKM yang dapat menghubungkan produk pelaku usaha dari berbagai desa dengan kebutuhan perusahaan dan tenant kawasan industri. Transaksi kemitraan tersebut nantinya dapat tercatat dan diukur sehingga kontribusi industri terhadap masyarakat dapat terlihat secara nyata.

“Ini yang bisa kita sampaikan kepada masyarakat bahwa kehadiran industri yang ada di Kabupaten Gresik sudah memberikan manfaat untuk masyarakat Kabupaten Gresik,” ujarnya.

Bupati juga mendorong kawasan industri untuk terlibat dalam pengelolaan sampah bersama. Gresik diproyeksikan berkontribusi dalam program waste to energy kawasan aglomerasi Surabaya Raya dengan target sekitar 250 ton sampah per hari.

Selain itu, Pemkab Gresik membuka ruang kolaborasi dengan perusahaan untuk mendukung kesempatan kerja yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD).

“Lihatlah Gresik sebagai mitra strategis. Tempat pemerintah hadir sebagai fasilitator, masyarakat siap menjadi bagian dari pertumbuhan, dan dunia usaha memperoleh kepastian untuk berkembang,” tutur Bupati Yani.

Menurut Bupati Yani, ukuran keberhasilan investasi pada akhirnya bukan hanya besarnya modal yang masuk, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. “Keberhasilan bukan hanya diukur dari besarnya investasi yang datang, tetapi dari besarnya manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menambahkan, daya tarik investasi Gresik juga diperkuat dengan pembangunan infrastruktur. Pemerintah daerah terus mendorong peningkatan konektivitas menuju kawasan industri, termasuk pengembangan jaringan jalan yang menghubungkan kawasan industri dengan akses jalan nasional dan jalan tol.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan kesiapan sumber daya manusia. Investasi yang tumbuh di Gresik harus membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat lokal untuk bekerja dan meningkatkan kesejahteraannya. “Investasi yang ada di Kabupaten Gresik harus bisa menurunkan angka kemiskinan dan angka pengangguran,” ujarnya.

Karena itu, Pemkab Gresik terus memperkuat pelatihan kerja, pendidikan vokasi, dan akses magang bagi masyarakat. Pemerintah juga mendorong agar kebutuhan kompetensi industri dapat disampaikan lebih awal sehingga pelatihan tenaga kerja dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Wabup Alif juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, perusahaan yang ingin tumbuh dalam jangka panjang harus ikut menjaga lingkungan sosial dan lingkungan hidup di sekitar wilayah operasionalnya.

“Bapak Ibu semua tentu tidak hanya ingin berusaha lima atau sepuluh tahun. Pasti ingin usaha itu berjalan 20 sampai 50 tahun ke depan. Karena itu kami berharap lingkungan sosial, udara, tanah, dan air juga dijaga,” ujarnya.

Wabup juga mendorong sinergi pemerintah dan dunia usaha dalam memperkuat akses pembiayaan, pengembangan SDM, serta penguatan infrastruktur pendukung kawasan industri. “Investasi yang ada di Kabupaten Gresik harus bisa menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Karena itu, investasi harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Setelah komitmen pemerintah daerah disampaikan, forum tersebut juga menawarkan sejumlah peluang investasi strategis kepada dunia usaha. Terdapat lima proyek yang telah disiapkan untuk dikembangkan bersama mitra strategis.

Peluang pertama adalah industri pengolahan logam tembaga dengan produk copper rod and wire serta copper tube. Proyek ini membutuhkan investasi sekitar Rp 17,19 triliun dan diarahkan untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik, elektronik, serta energi terbarukan.

Kedua, industri alat dan mesin pertanian dengan produk utama traktor roda empat dan combine harvester. Proyek ini membutuhkan investasi sekitar Rp 784,83 miliar untuk memperkuat modernisasi pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Ketiga, industri hilirisasi timah dengan produk tin solder, tin ribbon, dan tin chemical. Proyek bernilai sekitar Rp 1,17 triliun tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri elektronik, semikonduktor, dan kendaraan listrik.

Ketiga proyek tersebut direncanakan dikembangkan di kawasan ekonomi khusus Gresik yang didukung pelabuhan laut dalam, infrastruktur modern, dan ekosistem industri terintegrasi.

Peluang keempat adalah industri farmasi dengan nilai investasi sekitar Rp 707,95 miliar, yang akan memproduksi garam farmasi berkualitas tinggi sebagai bahan baku industri kesehatan.

Kelima, unit pengolahan ikan bernilai tambah dengan nilai investasi sekitar Rp514,75 miliar. Proyek ini akan mengolah hasil perikanan menjadi berbagai produk bernilai tambah untuk pasar domestik dan ekspor sekaligus memperkuat sektor perikanan dan UMKM Gresik.

Kepala DPMPTSP Gresik Reza Pahlevi mengatakan, The 1st Gresik Business Forum menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah dan dunia usaha dalam membangun kolaborasi yang lebih kuat. Menurut Reza, forum tersebut juga menjadi wadah untuk membahas berbagai isu yang berkaitan langsung dengan dunia usaha, mulai dari tata ruang, ketenagakerjaan, hingga penyesuaian kebijakan investasi.

“Kami ingin forum ini menjadi wadah strategis untuk menarik investasi sekaligus memperkuat brand image bahwa Gresik adalah salah satu daerah tujuan investasi yang menarik,” ujarnya. Reza mengatakan, forum tersebut diikuti sekitar 100 peserta, termasuk 50 pelaku usaha yang diundang, perwakilan perangkat daerah, asosiasi dunia usaha, kawasan industri, perbankan, serta pemangku kepentingan lainnya.

Selain membahas peluang investasi, forum juga menjadi momentum Pemkab Gresik memberikan apresiasi kepada perusahaan dan mitra usaha yang dinilai berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Penghargaan Investment Realization Contributor of Foreign Investment in 2025 diberikan kepada PT Freeport Indonesia dengan realisasi investasi sekitar Rp 2,5 triliun. The Largest Investment Realization Contributor of Domestic Investment in 2025 diberikan kepada PT Petrokimia Gresik dengan realisasi sekitar Rp 1,7 triliun.

Selanjutnya, The Largest Investment Realization Contributor of Industrial Estate in 2025 diberikan kepada PT Berkah Kawasan Sejahtera dengan realisasi sekitar Rp 81,1 miliar. The Largest Investment Realization Contributor SSMI in 2025 diberikan kepada PT Gajah Putera Antariaga dengan realisasi sekitar Rp 24,9 miliar.

Penghargaan juga diberikan kepada PT Garuda Unggul Putra Putri Jaya sebagai The Most Compliant Company in Submitting Investment Activity Report in 2025, PT Dharma Graha Utama sebagai perusahaan pertama yang melaksanakan kewajiban kemitraan sesuai Peraturan Bupati Gresik Nomor 62 Tahun 2026, serta CV Tiga Peruang Lampur sebagai The Most Contributive MSME Partnership in 2026.

PT Multimanao Indonesia memperoleh penghargaan The Best Participation Commitment upon Investment Facility 2026 to the Realization of Partnership Obligation, setelah merealisasikan komitmen kemitraan dengan UMKM dengan nilai kontrak sekitar Rp1,56 miliar.

Sementara itu, penghargaan The Highest Foreign Investment of Local Workforce in 2025 diberikan kepada PT Freeport Indonesia atas penyerapan tenaga kerja lokal sekitar 71 persen.

Penghargaan lainnya diberikan kepada PT Marco Prisma sebagai The Highest Domestic Investment of Local Workforce, PT BHST sebagai The Most Contributive GPMPTSP Partnership in 2025, Bank BPD Jawa Timur Cabang Gresik sebagai The Most Contributive Banking GPMPTSP Partnership in 2025, serta PT Himalaya Mitra Sukses sebagai The Most Participative GPMPTSP Partnership in 2025.

Melalui The 1st Gresik Business Forum, Pemkab Gresik ingin memastikan investasi tidak berhenti pada masuknya modal dan pembangunan proyek. Lebih jauh, investasi diharapkan berkembang menjadi kemitraan yang menghadirkan lapangan kerja, memperkuat UMKM, meningkatkan kompetensi masyarakat, menjaga lingkungan, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Beyond Investment, Bupati-Wabup Gresik Dorong Investasi Tumbuh Bersama Masyarakat Selengkapnya

Pemkab Gresik Boyong 5 Penghargaan di Ajang “Ayah Wajib Hadir” Harganas Jatim 

GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik memboyong lima penghargaan di peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Provinsi Jawa Timur di Pendapa Agung Kabupaten Malang pada Rabu, 29 Juli 2026.

Lima penghargaan itu, diantaranya,  pembentukan TPA/TAMASYA (Tempat Penitipan Anak/Taman Asuh Sayang Anak) jalur pemerintah, capaian diatas 100% peserta KB, peta jalan pembangunan kependudukan serta inovasi dan program unggulan Ketua TP PKK Kabupaten. 

TAMASYA, salah satu program unggulan bentukkan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani yang mendukung keberhasilan program prioritas nasional bidang pembangunan keluarga. Selain Bupati Gresik, Harganas juga memberikan apresiasi kepada Ketua Tim Penggerak PKK Nurul Haromaini Ali.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak didampingi Ketu TP PKK Arumi Bachsin kepada Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Ketua TP PKK Kabupaten Gresik Nurul Haromaini Fandi Akhmad Yani. Dalam sambutannya Wagub Emil Elistianto Dardak menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa. 

Menurut Emil, seluruh elemen masyarakat harus terus memperkuat peran keluarga sebagai tempat pertama dalam membentuk karakter generasi penerus. “Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kader dan Tim Pendamping Keluarga yang selama ini menjadi ujung tombak dalam mendampingi masyarakat,” ujar suami Arumi Bachsin ini.

Harganas yang mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”, Emil juga menyoroti pentingnya kehadiran ayah dalam proses tumbuh kembang anak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. “Hari ini sangat mungkin kita berada di rumah, tetapi masing masing sibuk dengan dunianya sendiri. Kehadiran Ayah harus benar benar dirasakan oleh anak anak,” pungkasnya. 

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani usai menerima penghargaan menyampaikan terima kasih kepada seluruh stakeholder dan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Gresik. Menurutnya, peringatan Harganas bukan sekadar agenda seremonial, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

“Apresiasi dan penghargaan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur ini untuk masyarakat Kabupaten Gresik. Mudah mudahan inovasi dan program unggulan seperti TPA/TAMASYA Masmundari ini terus bisa memberi manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar suami Nurul Haromaini Ali ini. 

Bupati Yani menegaskan, tema utama Harganas 2026 “Ayah Wajib Hadir”, menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi ketahanan keluarga. Sekaligus mengakselerasi penanganan stunting melalui kolaborasi lintas sektor yang masif. Tema ini mengingatkan bahwa kehadiran ayah dalam pengasuhan memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak. 

“Upaya percepatan penurunan stunting juga tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga elemen masyarakat. Terima kasih juga kepada Tim Penggerak PKK yang sudah membantu pemerintah dalam memaksimalkan TPA/TAMASYA Masmundari dan pengawasan menu MBG untuk anak anak yang sudah berjalan baik di masing masing dapur SPPG di Kabupaten Gresik,” tandasnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pemkab Gresik Boyong 5 Penghargaan di Ajang “Ayah Wajib Hadir” Harganas Jatim  Selengkapnya

Dari Kelas, Tumbuh Indonesia Berkeadilan

Oleh : YUNITA RAHMAH *

BEL berbunyi menandai dimulainya pelajaran Bahasa Indonesia. Murid segera membuka buku, sementara saya menuliskan tujuan pembelajaran hari itu di papan tulis: menulis teks deskripsi. Hampir semua murid sudah siap mengikuti pembelajaran. Namun, pandangan saya berhenti pada seorang anak yang duduk di sudut kelas. Ia menatap buku dengan wajah kebingungan. Ketika teman-temannya mulai menyusun kalimat, ia masih berusaha mengurutkan dua kata agar memiliki makna. Momen seperti itu hampir selalu saya temui setiap tahun.

Saya mengajar di UPT SMP Negeri 2 Gresik, salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Berdasarkan pengalaman saya selama mengajar, hampir setiap tahun ajaran baru sekolah kami menerima murid berkebutuhan khusus dengan karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang beragam. Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya hampir selalu mendapat amanah mendampingi mereka di kelas. Amanah itu tidak pernah ringan. Namun, justru di sanalah saya belajar bahwa ruang kelas bukan hanya tempat menyampaikan pengetahuan, melainkan juga tempat menghadirkan keadilan.

Selama ini, banyak orang memahami pendidikan inklusi sebatas menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Padahal, menerima mereka hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya muncul ketika mereka sudah duduk di bangku yang sama dengan teman-temannya. Guru dihadapkan pada pertanyaan yang tidak selalu dijawab secara tuntas oleh buku ajar maupun kurikulum: bagaimana mengajarkan satu materi kepada murid yang memiliki kemampuan sangat beragam? Pertanyaan itu terus saya bawa setiap memasuki ruang kelas.

Belajar dengan Cara yang Berbeda

Beberapa tahun lalu, saya mendampingi seorang murid kelas VII yang mengalami hambatan belajar. Saat pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, saya meminta seluruh murid mendeskripsikan suasana sekolah dalam satu paragraf. Hampir semua mulai menulis. Sementara itu, ia masih memegang pensil tanpa tahu harus memulai dari mana. Saya menghampirinya.

“Bagaimana kalau kita mulai dari satu kata saja?”

Ia mengangguk pelan.

Hari itu kami tidak berbicara tentang paragraf. Kami belum membahas struktur teks deskripsi. Kami memulai dari kata yang paling sederhana.

Sekolah.

Kemudian bertambah menjadi dua kata.

Sekolah bersih.

Lalu berkembang menjadi tiga kata.

Sekolah kami bersih.

Bagi murid lain, latihan itu mungkin terlalu mudah. Namun, baginya, menyusun tiga kata menjadi satu kalimat utuh merupakan perjuangan yang membutuhkan keberanian sekaligus kesabaran. Saya tidak ingin ia merasa sedang belajar sesuatu yang berbeda dari teman-temannya. Karena itu, setiap kata yang kami susun tetap berkaitan dengan materi teks deskripsi. Ia belajar menyusun kalimat sekaligus mengenal ciri-ciri objek yang sedang dideskripsikan. Dengan cara itu, ia tetap mempelajari materi yang sama, meskipun menempuh jalur belajar yang berbeda.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kesetaraan tidak selalu berarti memberikan perlakuan yang sama. Justru dalam pendidikan, keadilan sering kali berarti memberikan dukungan yang berbeda agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Proses itu tidak berlangsung cepat. Ada hari-hari ketika saya merasa tidak ada perkembangan sama sekali. Kalimat yang kemarin berhasil ia susun, hari ini kembali terlupakan. Kami pun mengulang lagi dari awal. Sebagai guru, tentu pernah muncul rasa lelah. Saya juga sempat bertanya dalam hati, apakah cara yang saya lakukan sudah tepat? Namun, setiap kali keraguan datang, saya selalu mengingat satu hal: anak itu tidak pernah menyerah datang ke sekolah. Maka, saya pun tidak berhak menyerah mendampinginya.

Beberapa bulan kemudian, perubahan kecil mulai terlihat. Ia mampu menyusun beberapa kalimat sederhana. Pada akhir semester, ia berhasil menulis sebuah paragraf deskripsi pendek. Paragraf itu jauh dari sempurna. Tanda bacanya belum tepat. Pilihan katanya masih terbatas. Kalimatnya pun masih sederhana. Namun, bagi saya, paragraf itu jauh lebih berharga daripada tulisan paling indah yang pernah saya baca. Setiap kalimat di dalamnya lahir dari proses panjang yang dipenuhi usaha, pengulangan, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba.

Pengalaman itu mengubah cara saya memandang keberhasilan belajar. Selama ini, dunia pendidikan terlalu sering mengukur keberhasilan melalui angka, nilai, atau peringkat. Padahal, bagi sebagian murid berkebutuhan khusus, keberhasilan mungkin berupa kemampuan menyusun satu kalimat setelah berbulan-bulan berlatih. Kemajuan yang tampak kecil di mata orang lain sesungguhnya merupakan lompatan besar bagi mereka.

Menyesuaikan Cara Belajar Murid

Pengalaman lain datang dari seorang murid yang hampir tidak pernah bisa duduk tenang selama pembelajaran berlangsung. Baru beberapa menit pelajaran dimulai, ia sudah berdiri, berjalan ke belakang kelas, melihat ke luar jendela, lalu kembali lagi. Jika dipaksa duduk, konsentrasinya justru semakin hilang. Pada awalnya, saya berusaha menyamakan perlakuannya dengan murid lain. Saya meminta ia tetap duduk, memperhatikan penjelasan, dan menyelesaikan tugas seperti teman-temannya. Hasilnya tidak sesuai harapan. Yang berubah justru suasana kelas menjadi tegang. Ia semakin sulit berkonsentrasi, sedangkan saya semakin sibuk mengingatkannya untuk duduk dan memperhatikan pelajaran.

Saya kemudian menyadari bahwa persoalannya bukan terletak pada kemauan belajar, melainkan pada cara belajarnya. Sejak saat itu, saya mulai menyesuaikan strategi pembelajaran. Saya memberikan aktivitas yang lebih singkat dan diselingi jeda. Saya membolehkan ia bergerak selama tidak mengganggu teman-temannya. Tugas yang semula diberikan sekaligus saya pecah menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah dipahami dan diselesaikan.

Perubahannya memang tidak terjadi secara instan. Namun, perlahan ia mampu mengikuti pembelajaran lebih lama dibandingkan sebelumnya. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa pendidikan inklusi bukan tentang membuat semua anak belajar dengan cara yang sama. Pendidikan inklusi justru mengajarkan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan, kemampuan, dan pintu masuk belajar yang berbeda.

Kolaborasi untuk Mewujudkan Pendidikan Inklusi

Di balik berbagai tantangan tersebut, saya melihat satu kenyataan yang sering luput dari perhatian. Pendidikan inklusi sesungguhnya tidak menuntut murid berkebutuhan khusus untuk menyesuaikan diri dengan sekolah. Pendidikan inklusi justru mengajak sekolah untuk terus belajar memahami kebutuhan setiap murid.

Guru dituntut lebih kreatif dalam merancang strategi pembelajaran. Sekolah perlu membangun budaya yang menerima perbedaan. Orang tua menjadi mitra penting dalam mendampingi perkembangan anak. Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ketika komunikasi antara guru dan orang tua terjalin dengan baik, perkembangan murid menjadi lebih nyata. Orang tua dapat menceritakan kebiasaan dan cara belajar anak di rumah. Sebaliknya, guru dapat menyampaikan perkembangan maupun kesulitan yang ditemui selama pembelajaran di kelas. Kolaborasi sederhana tersebut sering kali menghasilkan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Di sisi lain, teman-teman sekelas juga memiliki peran besar. Mereka bukan hanya menjadi teman belajar, tetapi juga menjadi lingkungan sosial pertama yang mengajarkan arti penerimaan. Ketika murid berkebutuhan khusus merasa dihargai, mereka akan lebih percaya diri untuk mencoba, bertanya, berinteraksi, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dari situlah saya semakin yakin bahwa keberhasilan pendidikan inklusi tidak hanya diukur melalui capaian akademik. Keberhasilan juga terlihat dari tumbuhnya rasa percaya diri, kemandirian, kemampuan bersosialisasi, serta keyakinan setiap murid bahwa sekolah adalah tempat yang menerima dan menghargai dirinya.

Namun, pelaksanaan pendidikan inklusi masih menghadapi berbagai keterbatasan. Tidak semua sekolah memiliki guru pendamping khusus. Sarana dan prasarana yang ramah disabilitas juga belum tersedia secara merata. Dalam kondisi seperti itu, guru sering menjadi pihak yang harus mencari berbagai strategi pembelajaran secara mandiri. Berbagai regulasi sebenarnya telah memberikan landasan yang kuat bagi pelaksanaan pendidikan inklusi. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 menegaskan pentingnya layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan hak murid yang memiliki kelainan maupun potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menegaskan hak penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi. Artinya, pendidikan inklusi bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan pemenuhan hak setiap warga negara.

Namun, regulasi tidak akan bermakna jika hanya berhenti sebagai dokumen. Semangat inklusi sesungguhnya hidup di ruang kelas ketika guru mulai bertanya, “Bagaimana agar murid ini dapat belajar?”, bukan “Mengapa murid ini tidak dapat belajar?” Pertanyaan pertama mendorong lahirnya solusi. Pertanyaan kedua berisiko berhenti pada penilaian.

Ruang Kelas yang Menumbuhkan Empati

Saya juga belajar bahwa pendidikan inklusi bukan hanya memberikan dampak bagi murid berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi juga membentuk karakter seluruh murid. Di kelas, saya sering melihat teman-temannya membantu membacakan soal, menemani berdiskusi, atau memberikan semangat ketika seorang murid berkebutuhan khusus mengalami kesulitan menyelesaikan tugas. Tidak ada yang saya minta secara khusus. Kebiasaan itu tumbuh karena mereka belajar hidup bersama dalam keberagaman. Tanpa disadari, mereka sedang mempraktikkan empati, toleransi, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai-nilai yang selama ini diajarkan melalui teori justru mereka pelajari melalui pengalaman sehari-hari. Barangkali inilah pelajaran paling berharga dari pendidikan inklusi. Murid belajar bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Mereka belajar bahwa membantu teman bukan berarti merendahkan. Mereka belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek. Mereka juga belajar bahwa keberhasilan bersama jauh lebih bermakna daripada sekadar menjadi yang paling unggul. Bukankah bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur lahir dari warga yang mampu menghargai sesamanya?

Sebagai guru, saya tidak pernah berharap semua murid berkebutuhan khusus akan memperoleh nilai yang sama tinggi dengan murid lainnya. Saya juga tidak berharap seluruh keterbatasan mereka hilang begitu saja.

Harapan saya jauh lebih sederhana.

Saya ingin mereka merasa diterima.

Saya ingin mereka pulang dari sekolah dengan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar.

Saya ingin mereka percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Sebab pendidikan bukanlah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Pendidikan adalah perjalanan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena memiliki cara belajar yang berbeda.

Selama bertahun-tahun mendampingi murid berkebutuhan khusus, saya menyadari bahwa sesungguhnya merekalah yang banyak mengajari saya. Mereka mengajarkan arti kesabaran, ketekunan, dan harapan. Mereka mengingatkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari langkah yang cepat, tetapi dari keberanian untuk terus melangkah. Kini, setiap kali memasuki ruang kelas, saya tidak lagi hanya melihat siapa yang paling pintar atau siapa yang paling lambat. Saya melihat anak-anak dengan potensi yang berbeda-beda. Setiap anak membawa cerita, kemampuan, tantangan, dan perjuangannya masing-masing.

Pada akhirnya, pendidikan inklusi mengajarkan saya bahwa ruang kelas bukan sekadar tempat menyampaikan materi pelajaran, melainkan ruang untuk memanusiakan manusia. Pendidikan inklusi bukan hanya memberikan tempat bagi murid berkebutuhan khusus untuk duduk bersama teman-temannya, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang benar-benar menerima setiap anak sebagai pribadi yang berharga.

Guru dituntut kreatif merancang pembelajaran yang berpihak pada keberagaman. Sekolah perlu membangun budaya yang menghargai perbedaan. Orang tua menjadi mitra yang saling menguatkan. Sementara itu, teman-teman sekelas menghadirkan lingkungan sosial yang mengajarkan empati, kepedulian, dan penerimaan.

Dari pengalaman mendampingi murid berkebutuhan khusus, saya menyaksikan bahwa kolaborasi sederhana di antara guru, sekolah, orang tua, dan teman sebaya mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, serta keberanian untuk terus belajar. Itulah keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya. Keberhasilan tidak semata-mata tercermin dari nilai rapor atau capaian akademik, melainkan juga dari tumbuhnya keyakinan dalam diri setiap murid bahwa mereka diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.

Saya percaya, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar atau pembangunan fisik. Indonesia juga dibangun dari ruang-ruang kelas yang memberi kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.

Ketika seorang murid yang semula kesulitan menyusun kata akhirnya mampu menulis sebuah paragraf, di sanalah harapan sedang bertumbuh.

Ketika seorang murid yang sulit duduk tenang akhirnya dapat mengikuti pembelajaran dengan caranya sendiri, di sanalah pendidikan menjadi lebih manusiawi.

Ketika murid-murid belajar menerima perbedaan sebagai kekuatan, di sanalah nilai keadilan mulai berakar.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya memberi ruang bagi mereka yang kuat, melainkan bangsa yang memastikan tidak ada satu pun anak tertinggal karena perbedaan yang dimilikinya. Setiap ruang kelas yang ramah dan inklusif adalah tempat menanam harapan bagi masa depan Indonesia. Ketika setiap anak diberi kesempatan untuk belajar, bertumbuh, bermimpi, dan hidup dengan martabat, sesungguhnya kita sedang menumbuhkan generasi yang akan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. (*/yad)

Guru Bahasa Indonesia UPT SMP NEGERI 2 Gresik

Dari Kelas, Tumbuh Indonesia Berkeadilan Selengkapnya

Tradisi Petrokimia Gresik Berbagi di Hari Ulang Tahun, 529 Pengayuh Becak di Gresik Semringah

GRESIK,1minute.id – Ratusan pengayuh becak berkumpul di GOR Petrokimia Gresik pada Rabu, 29 Juli 2026. Wajah mereka terlihat semringah. Sebab, abang becak yang mayoritas berusia kepala lima itu menerima bingkisan, uang dan nasi kotak.

Bagi, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia (persero) ini, berbagi dengan Abang Becak adalah tradisi tahunan saat merayakan hari ulang tahun perusahaan. Tahun ini, Petrokimia Gresik memasuki usia 54 tahun. Sebanyak 529 abang becak menerima bantuan berupa uang tunai, bingkisan, dan suvenir sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap pekerja rentan. 

Direktur Manajemen Risiko PT Petrokimia Gresik Muhammad Ikhwan Fahrurrazi mengatakan kegiatan berbagi bersama abang becak telah menjadi agenda rutin setiap peringatan hari jadi. “Berbagi berkah kepada abang becak ini rutin kami gelar. Semoga bapak-bapak semua ikut merasakan berkah di momen ulang tahun Petrokimia Gresik,” ujarnya.

Menurutnya, Petrokimia Gresik memandang profesi pengayuh becak sebagai pekerjaan yang mulia karena dilakukan dengan usaha yang halal demi menghidupi keluarga.

“Kami melihat setiap kayuhan becak bapak-bapak dalam mencari rezeki yang halal itu adalah berkah. Bapak-bapak merupakan kepala keluarga. Karena itu, kami ingin hadir dan berbagi kebahagiaan,” katanya. “Doakan semua operasional Petrokimia Gresik semakin lancar. Sehingga perusahaan bisa terus berbagi,” imbuh Ikhwan.

Rohmad, 67 tahun, salah satu penerima berkah HUT Ke-54 Petrokimia Gresik mengucapkan rasa syukur perhatian yang diberikan. “Alhamdulillah senang sekali. Bantuan ini sangat bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya. Ia mengaku profesi sebagai pengayuh becak tidak bisa diandalkan. karena kalah bersaing dengan moda transportasi online. “Sehari bisa membawa pulang uang Rp 50 ribu sudah sangat besar. Alhamdulillah hari bisa mendapatkan uang lebih,” ujarnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Tradisi Petrokimia Gresik Berbagi di Hari Ulang Tahun, 529 Pengayuh Becak di Gresik Semringah Selengkapnya

Ning Nila, Anggota Komisi VII DPR RI Dorong UMKM di Gresik Gunakan Fotografi dan Medsos untuk Gaet Gen Z

GRESIK,1minute.id – Anggota Komisi VII DPR RI Nila Yani Hardiyanti mendorong UMKM, wabil khusus pelaku usaha kuliner di Kabupaten Gresik, untuk memanfaatkan fotografi dan media sosial sebagai strategi pemasaran agar mampu menjangkau generasi muda, khususnya Gen Z.

Menurut Ning Nila, sapaan, Nila Yani Hardiyanti, banyak kuliner khas Gresik, memiliki cita rasa dan resep yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, tidak sedikit pelaku usaha yang masih kesulitan menarik perhatian pasar generasi muda karena belum mampu menyajikan tampilan visual yang menarik di media digital.

“Selama ini banyak kuliner yang rasanya luar biasa, tetapi belum mampu menyapa Gen Z. Padahal mereka sangat aktif menggunakan media sosial. Karena itu, foto makanan bukan sekadar gambar, tetapi harus mampu bercerita dan membangun ketertarikan calon pembeli,” kata Ning Nila ketika menjadi pembicara dalam workshop bertajuk “Through the Lens: Culinary Storytelling with Photography” di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik pada Selasa, 28 Juli 2026. 

Selain Ning Nila, workshop yang diinisiasi oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia juga menghadirkan fotografer dokumenter, pengajar foto jurnalistik, dan pendiri Matanesia asal Surabaya, Mamuk Ismuntoro ini diikuti seratus pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Mereka ada yang berbisnis makanan dan minuman, hingga event organizer. 

Ia menilai daya saing sebuah produk kuliner saat ini tidak hanya ditentukan oleh cita rasa, tetapi juga bagaimana produk tersebut dikemas secara visual.

“Sering kali pelaku usaha kalah bersaing bukan karena rasanya, tetapi karena visual produknya kurang menarik. Lewat storytelling dalam fotografi, makanan akan memiliki cerita yang mampu mengundang orang untuk membeli,” kata politisi perempuan dari daerah pemilihan (dapil) Gresik dan Lamongan ini. 

Nila menambahkan, penguatan sektor ekonomi kreatif, termasuk kuliner, diharapkan mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, kegiatan workshop tidak sekadar menjadi acara seremonial, melainkan menjadi instrumen peningkatan kapasitas pelaku usaha.

“Kami ingin workshop ini benar-benar menjadi bekal bagi para pelaku bisnis kuliner agar mampu memanfaatkan kekuatan visual dalam memasarkan produknya,” harapnya. Ia menegaskan, workshop akan dilakukan secara berkelanjutan. 

Perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif, Iman Santoso, turut mengapresiasi penyelenggaraan workshop tersebut. Kemampuan pelaku UMKM dalam memanfaatkan fotografi dan storytelling menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah produk kuliner sekaligus memperluas jangkauan pemasaran di era digital.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik, Ghozali, berharap kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas promosi produk.

Menurutnya, Kabupaten Gresik memiliki sejumlah warisan budaya tak benda (WBTB) seperti nasi krawu dan kupat ketek yang memiliki potensi besar untuk dipromosikan melalui konten visual yang menarik. “Kami berharap para pelaku usaha dapat memanfaatkan ilmu fotografi storytelling ini agar kuliner khas Gresik semakin dikenal luas dan memiliki daya saing yang lebih tinggi,” ujarnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Ning Nila, Anggota Komisi VII DPR RI Dorong UMKM di Gresik Gunakan Fotografi dan Medsos untuk Gaet Gen Z Selengkapnya

Pemkab Gresik Siapkan Pekerja Konstruksi Lokal Bersertifikasi untuk Bersaing di Dalam dan Luar Negeri

GRESIK,1minute.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik melalui Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DCKPKP) Gresik menggelar kegiatan Pembekalan dan Uji Kompetensi Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi di Ruang Putri Cempo, Kantor Bupati Gresik pada Rabu, 29 Juli 2026.

Kegiatan ini sebagai komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik berupaya untuk meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM), khususnya Pekerja Migran Indonesia (PMI) di sektor konstruksi dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman. Ia didampingi  Kepala Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DCKPKP) Gresik Ida Lailatussa’diyah. 

Sebanyak 54 peserta mengikuti pembekalan dan uji kompetensi dengan antusias. Sertifikasi yang dilaksanakan mencakup tiga skema kompetensi, yakni Juru Las Pemula sebanyak 28 peserta, Tukang Pasang Bata Plester sebanyak 24 peserta, serta Kepala Tukang Bangunan Gedung sebanyak dua peserta.

Dalam sambutannya, Sekda Washil menyampaikan bahwa sertifikasi kompetensi merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan, terutama di tengah semakin tingginya persaingan tenaga kerja. Menurutnya, tenaga kerja yang memiliki sertifikat kompetensi akan lebih mudah memperoleh kepercayaan dari pengguna jasa sekaligus memiliki peluang kerja yang lebih luas.

Ia mengungkapkan, dari sekitar 10 ribu tenaga kerja konstruksi di Kabupaten Gresik, baru 3.654 orang atau kurang dari 25 persen yang telah memiliki sertifikat kompetensi. Sementara itu, dari 8.348 calon PMI sektor konstruksi yang terdata di Dinas Tenaga Kerja, baru 368 orang yang telah tersertifikasi.

“Angka ini menjadi tantangan bagi kita semua. Karena itu saya berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Sertifikat kompetensi bukan sekadar dokumen, tetapi menjadi bekal penting untuk meningkatkan profesionalisme dan daya saing di dunia kerja,” ujarnya.  

Ia menjelaskan bahwa seorang tenaga kerja profesional harus memiliki tiga aspek utama, yakni keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude).  “Keterampilan harus terus diasah sesuai bidang pekerjaan, pengetahuan harus ditingkatkan melalui pemahaman terhadap standar operasional. Sedangkan sikap tercermin dari kedisiplinan, tanggung jawab, dan etika dalam bekerja,” jelasnya. 

Selain kompetensi teknis, Washil juga mendorong para calon pekerja migran untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi akan sangat membantu saat bekerja di luar negeri, sekaligus meminimalkan risiko kesalahpahaman maupun persoalan hukum di negara tujuan.

Sementara itu, Kepala Dinas CKPKP Gresik 

Ida Lailatussa’diyah dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Gresik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang jasa konstruksi. Hal ini sekaligus mendukung visi pembangunan daerah melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal.

Menurutnya, sertifikasi kompetensi diharapkan menjadi bekal bagi para pekerja migran yang ingin kembali berkarya di tanah air. Diharapkan tenaga kerja lokal mampu mengisi kebutuhan tenaga konstruksi di berbagai kawasan industri di Kabupaten Gresik.

“Kami ingin tenaga kerja asal Gresik menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai hanya menjadi penonton ketika peluang kerja terbuka lebar di kawasan industri. Dengan sertifikat kompetensi, para peserta memiliki bukti keahlian yang diakui sehingga lebih siap bersaing di dunia kerja,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan yang didanai melalui APBD Kabupaten Gresik Tahun Anggaran 2026 tersebut juga menjadi bentuk pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, yang mana mengisyaratkan kewenangan tugas pemerintah daerah dalam pembina jasa konstruksi di daerah untuk tingkat terampil. 

Melalui pembekalan dari Lembaga Sertifikasi Profesi Tenaga Konstruksi Nasional (LSP-TKN) dan Lembaga Sertifikasi Profesi Perkumpulan Tenaga Kerja Ahli dan Terampil Indonesia (LSP-PETAKINDO), para peserta diharapkan memperoleh pengakuan kompetensi yang sesuai dengan standar nasional. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pemkab Gresik Siapkan Pekerja Konstruksi Lokal Bersertifikasi untuk Bersaing di Dalam dan Luar Negeri Selengkapnya

Puncak HAN 2026, Pemkab Gresik Raih Indeks Perlindungan Anak Terbaik se Jawa Timur dan 3 Besar Nasional

GRESIK,1minute.id – Puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Jawa Timur dipusatkan di Kawasan Wisata Pintu Langit, Prigen, Kabupaten Pasuruan pada Selasa, 28 Juli 2026. Acara itu dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hingga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. 

Bupati Gresik Fandi Akhmad hadir langsung dalam acara itu untuk menerima dua penghargaan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik sukses menyabet dua penghargaan yakni peringkat 1 se-Jatim dan Peringkat 3 Nasional untuk Indeks Perlindungan Anak (IPA). Penghargaan tersebut diserahkan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. 

Menteri PPPA Arifah Fauzi mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam puncak HAN. Menurutnya, banyak yang diberikan kepada anak-anak dan perempuan di Jawa Timur, seperti pelayanan yang dilaunching yaitu Perisai Anak (Ekosistem Perlindungan Anak di Ruang Digital) dirancang sebagai langkah strategis menekan angka kekerasan pada anak. 

“Pemprov Jatim benar-benar memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak, bukti nyata telah memberikan layanan seperti Perisai Anak yang akan melindungi perempuan dan anak di Jawa Timur,” ungkap Arifah Fauzi.

Arifah mengingatkan para orang tua di Jawa Timur tentang besarnya ancaman digital, khususnya dari pengaruh negatif media sosial. Melalui program ini, orang tua didorong untuk mengambil peran kecil yang berdampak besar, seperti menjadi teman berbicara, teladan penggunaan gawai, serta pendengar pertama bagi anak tanpa langsung memberikan penghakiman sepihak. 

“Masalah kekerasan dan tantangan yang dihadapi anak-anak di era modern tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja. Untuk itu, saya mengajak seluruh pemangku kepentingan mulai dari aparat penegak hukum, pemerintah daerah, sekolah, hingga orang tua untuk berkolaborasi bersama,” tandasnya.

Puncak peringatan HAN 2026 semakin meriah karena sejumlah perform ratusan siswa. Merek unjuk bakat kreatif, mulai dari tarian daerah, pembacaan puisi, hingga atraksi baris-berbaris polisi cilik (Pocil)  dari Sekolah Rakyat terintegrasi Kota Pasuruan. 

Usai menerima penghargaan, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, kegiatan ini menjadi momentum krusial bagi wilayah Jawa Timur untuk memperkuat komitmen perlindungan hak anak sekaligus implementasi ruang digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab bagi generasi masa depan.

“Penghargaan ini menjadi motivasi kami untuk terus berjuang memberikan perlindungan terhadap anak-anak di Gresik. Ini menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Gresik dalam membangun lingkungan yang ramah anak sekaligus mendorong pemenuhan hak-hak anak melalui kebijakan dan program yang berkelanjutan,” tutur Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani. 

Karena itu, Ia menegaskan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak memperoleh hak untuk tumbuh, belajar, terlindungi, sehat, dan berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki. Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemkab Gresik terus menghadirkan berbagai program yang berpihak kepada anak melalui penguatan sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, pemenuhan gizi, hingga penciptaan lingkungan yang aman dan ramah anak.

“Mari kita sayangi anak, lindungi mereka, karena anak-anak kita adalah calon pemimpin masa depan. Investasi terbaik yang dapat kita lakukan adalah memastikan mereka tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang berkualitas, mendapatkan perlindungan, serta memiliki ruang untuk mengembangkan karakter, kreativitas, dan prestasinya,” ungkap mantan Ketua DPRD Gresik ini. 

Di tempat sama, Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KBPPPA) Gresik, dr. Titik Ernawati mengatakan, hari ini Kabupaten Gresik memperoleh indeks perlindungan anak tingkat provinsi Jawa timur melalui 5 kluster penilaian. Diantaranya, hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif serta kesehatan dasar dan kesejahteraan. 

“Ini akan menjadi pemicu semangat kami kedepan dalam meningkatkan nilai Indeks perlindungan dan pemenuhan hak hak anak di Gresik. Harapannya kedepan Kabupaten Gresik mempertahankan kembali tingkat pertama di Jawa Timur dan naik level di nasional,” ujarnya (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Puncak HAN 2026, Pemkab Gresik Raih Indeks Perlindungan Anak Terbaik se Jawa Timur dan 3 Besar Nasional Selengkapnya

Catatkan Penjualan 18 Juta Ton, SIG Sasar Penguatan Penetrasi Pasar di Jawa Barat

GRESIK,1minute.id – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) berhasil menjaga momentum pertumbuhan dengan terus mencatatkan kinerja penjualan yang positif. Pada semester I / 2026, SIG berhasil mencatatkan volume penjualan total sebanyak 18,27 juta ton, atau naik 5,6% yoy dari periode sebelumnya sebanyak 17,3 juta ton.

Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan, kinerja penjualan yang terus bertumbuh pada semester I/ 2026 tercapai melalui strategi penajaman fokus pada pengelolaan pemasaran dan penjualan, serta memastikan ketersediaan dan memperluas jangkauan pasar.

”Kinerja penjualan yang positif merupakan bukti konsistensi SIG menjalankan transformasi, khususnya dalam penguatan pengelolaan pasar mikro. Pencapaian ini juga sejalan dengan komitmen BP BUMN dan Danantara sehingga transformasi BUMN membuahkan hasil nyata dan menciptakan nilai untuk memberikan manfaat bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Vita Mahreyni.

Vita Mahreyni menambahkan, SIG terus berupaya meningkatkan kinerja penjualan retail yang menjadi kontributor utama pendapatan Perusahaan. Selama ini, penjualan retail berkontribusi sebesar 70% dari total pendapatan Perusahaan.

Ke depan, SIG akan menyasar pasar potensial di Jawa Barat. Langkah strategis SIG untuk menggarap pasar di Tanah Pasundan tersebut tak lepas dari permintaan semen di Jawa Barat yang naik 7,5% yoy pada semester I/2026.

”Penguatan pasar mikro di berbagai wilayah penjualan merupakan langkah strategis SIG untuk memenangkan persaingan dan menjadi motor penggerak pertumbuhan kinerja berkelanjutan dan semakin mengukuhkan posisi SIG sebagai market leader di Indonesia,” ujar Vita Mahreyni. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Catatkan Penjualan 18 Juta Ton, SIG Sasar Penguatan Penetrasi Pasar di Jawa Barat Selengkapnya

Pemulihkan Ekosistem Pantai, Petrokimia Gresik Tanam Ribuan Bibit Mangrove di Mengare

GRESIK,1minute.id – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), melaksanakan penanaman sekitar 1.000 bibit mangrove secara bertahap di kawasan Pusat Restorasi dan Penanaman Mangrove (PRPM) Mengare, Desa Tanjungwidoro, Kecamatan Bungah.

Kegiatan ini sebagai komitmen dalam menjaga ekosistem pesisir dilakukan bertepatan peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026. Penanaman Mangrove Serentak Seluruh Indonesia ini diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada Minggu, 26 Juli 2026. Kegiatan nasional dipusatkan di Pelabuhan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Bali.

“Pelestarian ekosistem pesisir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen perusahaan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, setiap program lingkungan yang dijalankan perusahaan dirancang untuk memberikan manfaat ekologis sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” kata Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob pada Senin, 27 Juli 2026.

Menurut Daconi, mangrove memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain menjadi habitat berbagai biota laut, mangrove juga mampu menyerap karbon dalam jumlah besar, mengurangi laju abrasi, serta melindungi kawasan pantai dari ancaman gelombang dan erosi.

“Mangrove merupakan benteng alami yang menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Kemampuannya menahan abrasi sekaligus menyerap karbon menjadikannya salah satu solusi alami dalam mendukung mitigasi perubahan iklim,” ujar Daconi.

Ia menambahkan bahwa filosofi mangrove sejalan dengan semangat Petrokimia Gresik dalam menjalankan bisnis. Sebagaimana akar mangrove yang kokoh menjaga pesisir, Petrokimia Gresik terus memperkuat perannya dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus membangun perusahaan yang tangguh menghadapi dinamika industri global.

“Semangat mangrove mencerminkan nilai-nilai yang kami pegang. Kami ingin terus tumbuh dengan fondasi yang kuat, memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian Indonesia agar semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” tambah Daconi.

Partisipasi dalam Penanaman Mangrove Serentak Seluruh Indonesia melengkapi berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang telah dijalankan Petrokimia Gresik dalam mendukung pelestarian ekosistem pesisir. Salah satunya melalui pengembangan Ekowisata Kalam Mangrove di Desa Sukorejo yang berhasil mengubah kawasan sempadan Kali Lamong menjadi area bebas sampah, kawasan konservasi mangrove, sekaligus destinasi wisata berbasis lingkungan.

Selain itu, Petrokimia Gresik juga secara berkelanjutan mengembangkan Pusat Restorasi dan Penanaman Mangrove (PRPM) Mengare di Desa Tanjungwidoro. Program ini mengedepankan pemberdayaan masyarakat melalui konservasi ekosistem pesisir untuk mengurangi abrasi, meningkatkan produktivitas perikanan, serta menciptakan alternatif sumber penghasilan melalui pengembangan ekowisata pesisir terpadu.

Komitmen perusahaan terhadap pelestarian ekosistem mangrove juga diwujudkan melalui dukungan dalam pembangunan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Mangrove Ujungpangkah. Atas kontribusi tersebut, Petrokimia Gresik memperoleh apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagai Perusahaan Terbaik Kategori Private Sector.

Melalui penanaman bibit mangrove ini, Petrokimia Gresik berharap semangat menjaga ekosistem pesisir terus tumbuh di tengah masyarakat. Bagi Petrokimia Gresik, pelestarian lingkungan bukan sekadar memenuhi tanggung jawab perusahaan, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan. Oleh karena itu, perusahaan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan program-program yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan.

“Keberlanjutan bukan sekadar komitmen, tetapi menjadi bagian dari cara Petrokimia Gresik menjalankan bisnis. Kami percaya setiap pohon mangrove yang ditanam melalui program ini akan menjadi warisan berharga bagi lingkungan, masyarakat, dan masa depan Indonesia,” tutup Daconi. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Pemulihkan Ekosistem Pantai, Petrokimia Gresik Tanam Ribuan Bibit Mangrove di Mengare Selengkapnya

Bupati Gresik Bawa Model Perlindungan Anak PMI ke Forum Nasional di Jakarta, Menteri P2MI/BP2MI Anugerahi Penghargaan Kepala Daerah Inspiratif

GRESIK,1minute.id – Perlindungan anak pekerja migran Indonesia tidak boleh berhenti pada upaya memulangkan mereka ke tanah air. Lebih dari itu, anak-anak tersebut harus dipastikan memiliki identitas, memperoleh pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, serta memiliki kesempatan untuk tumbuh dan membangun masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani saat menjadi salah satu narasumber utama dalam Diskusi Publik Nasional bertema “Anak Pekerja Migran Indonesia: Tantangan, Pelindungan, dan Masa Depan” di Aula K.H. Abdurrahman Wahid, Kantor Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Jakarta pada Senin, 27 Juli 2026. 

Dalam forum tersebut, Gus Yani, sapaan akrab, Fandi Akhmad Yani, juga menerima Piagam Penghargaan dari Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia sebagai Kepala Daerah Inspiratif dalam Gerakan Peduli Anak Pekerja Migran Indonesia.

Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan upaya Bupati Fandi Akhmad Yani dalam memberikan hak dan perlindungan, sekaligus menjamin masa depan anak-anak pekerja migran Indonesia.

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronika Tan, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono, Direktur Jenderal Pemberdayaan KP2MI Muh. Fachri dan President IDN Global Nathalia Widjaja.

Kemudian, Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri Heni Hamidah, Duta Besar RI untuk Malaysia periode 2020–2025 Dato’ Indera Hermono, serta Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi. Forum juga 

diikuti para rektor dan perwakilan rektor sejumlah universitas, para kepala sekolah Sanggar Belajar Malaysia, kepala dinas ketenagakerjaan kabupaten/kota, serta kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) secara daring melalui Zoom.

Dalam paparannya, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani membagikan pengalaman Kabupaten Gresik membangun model perlindungan anak pekerja migran Indonesia, khususnya anak-anak yang lahir dari pekerja migran asal Gresik di Malaysia. “Menyelamatkan satu anak, sama saja menyelamatkan satu generasi. Anak-anak tidak boleh menjadi korban jarak dan migrasi,” ujar Magister Mitigasi Bencana Unair Surabaya ini. 

Berdasarkan data yang dimiliki Pemkab Gresik, terdapat 8.348 pekerja migran asal Gresik yang tersebar di 10 kecamatan. Sementara itu, sebanyak 1.520 PMI tercatat atau telah terintegrasi dengan Dinas Tenaga Kerja pada periode 2022–2025. Malaysia menjadi negara tujuan utama. Sebanyak 70,9 persen PMI asal Gresik yang tercatat memilih negara tersebut sebagai tujuan bekerja.

Menurutnya, kedekatan geografis dan budaya serta jejaring keluarga dan komunitas membuat Malaysia menjadi tujuan utama PMI asal Gresik. Namun, data tersebut kemungkinan belum menggambarkan kondisi sebenarnya karena masih terdapat pekerja migran yang berangkat tanpa dokumen resmi.

Karena itu, perhatian terhadap isu migrasi tidak boleh hanya berfokus pada jumlah pekerja, sektor pekerjaan, maupun remitansi. Anak-anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga pekerja migran juga harus menjadi bagian dari sistem perlindungan. Salah satu kerentanan paling mendasar adalah persoalan identitas hukum. Sebagian anak PMI lahir dari situasi keluarga yang kompleks, termasuk perkawinan yang tidak tercatat maupun hubungan tanpa status hukum yang jelas.

“Ketika identitas tidak ada, maka hak-hak lain juga menjadi jauh. Hak pendidikan, hak kesehatan, hak keamanan, dan hak-hak dasar lainnya,” ujar mantan Ketua DPRD Gresik ini.

Kerentanan tersebut semakin kompleks karena sebagian anak PMI juga menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Berdasarkan hasil riset Pemkab Gresik, terdapat 76 sanggar belajar binaan KBRI di berbagai wilayah Malaysia yang menampung lebih dari 2.300 anak PMI.

Suami Nurul Haromaini Ali ini mengapresiasi peran KBRI Kuala Lumpur dalam menyediakan ruang pendidikan bagi anak-anak tersebut, termasuk melalui pelibatan universitas dalam program KKN internasional untuk mengatasi keterbatasan tenaga pengajar.

Namun, sebagian sanggar belum memiliki kurikulum resmi maupun guru tetap. Meski demikian, keberadaan sanggar belajar tetap menjadi upaya penting untuk memastikan anak-anak PMI memperoleh hak dasar pendidikan. Atas persoalan tersebut, Kabupaten Gresik membangun model perlindungan anak pekerja migran melalui tiga fase utama.

Fase pertama adalah pelacakan dan pemutakhiran data anak pekerja migran, sekaligus penjaminan identitas hukum. Pemkab Gresik berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur untuk memastikan asal-usul anak dan keterkaitannya dengan Kabupaten Gresik.

Proses tersebut dilanjutkan dengan validasi di tingkat desa dan pendekatan kepada keluarga yang berada di Gresik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan data anak sekaligus kesiapan keluarga dalam menerima dan mendampingi anak ketika kembali ke Indonesia.

Dalam proses pemulangan, kolaborasi juga dilakukan bersama KBRI dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, termasuk dalam fasilitasi dokumen perjalanan sementara bagi anak-anak yang akan kembali ke Indonesia.

Fase kedua adalah pemulangan anak-anak pekerja migran ke Kabupaten Gresik. “Setelah kami tracing semuanya, kesimpulannya adalah paling tepat mereka kita bawa pulang ke Indonesia, pulang ke Gresik, agar mereka mendapatkan hak identitas, hak pendidikan yang layak, dan hak-hak lainnya,” ujar bapak dua anak ini.

Fase ketiga adalah penjaminan layanan dasar setelah anak tiba di Gresik. Pemkab Gresik memastikan anak-anak tersebut memperoleh akses pendidikan, pemenuhan dokumen kependudukan, layanan kesehatan fisik dan mental, pendampingan psikososial, perlindungan sosial, serta dukungan pengembangan diri dan keterampilan. Seluruh layanan tersebut dilakukan melalui kolaborasi lintas perangkat daerah sesuai tugas dan kewenangannya.

Dalam salah satu kasus, Pemkab Gresik menyiapkan akses pendidikan bagi seorang anak PMI berusia sekitar delapan tahun melalui program Sekolah Rakyat. Anak tersebut kini telah berada di Gresik dan mendapatkan pendampingan bersama keluarga yang menerimanya.

Komitmen tersebut telah diwujudkan melalui dua gelombang pemulangan anak pekerja migran. Pada 8–9 Februari 2026, tiga anak PMI asal Gresik dipulangkan ke Indonesia. Selanjutnya, pada 9–10 Juli 2026, enam anak asal Gresik kembali difasilitasi untuk pulang bersama tiga anak pekerja migran dari daerah lain.

Dengan demikian, sebanyak sembilan anak asal Gresik telah difasilitasi pulang melalui dua gelombang pemulangan. Pada gelombang kedua, Pemkab Gresik juga turut memfasilitasi kepulangan tiga anak pekerja migran dari daerah lain.

Bupati Yani menegaskan, pemulangan bukanlah akhir dari proses perlindungan. Kepulangan justru menjadi awal untuk memastikan anak-anak tersebut memiliki identitas, memperoleh pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, dan memiliki kesempatan membangun masa depan. “Satu hal yang kami harapkan adalah anak-anak bisa diterima di Indonesia, memiliki identitas, dan bisa sekolah tanpa kesulitan administrasi. Ini yang menjadi konsentrasi kami di Kabupaten Gresik,” tuturnya.

BUPATI INSPIRATIF: Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin menyerahkan piagam penghargaan kepada Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani sebagai Kepala Daerah Inspiratif dalam Gerakan Peduli Anak Pekerja Migran Indonesia di Jakarta pada Senin. 27 Juli 2026 ( Foto : Kominfo Gresik untuk 1minute.id)

Menurutmya, pengalaman Gresik menunjukkan bahwa perlindungan anak pekerja migran tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga atau satu daerah saja. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, perwakilan diplomatik, diaspora, organisasi masyarakat sipil, pemerintah desa, dan keluarga perlu bergerak dalam satu ekosistem perlindungan.

“Perlindungan anak pekerja migran bukan hanya soal memulangkan mereka. Ada proses panjang untuk memastikan mereka memiliki identitas, memperoleh hak pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, dan bisa kembali tumbuh bersama keluarga serta lingkungannya,” pungkas Bupati Yani.

Gagasan tersebut sejalan dengan agenda nasional yang disampaikan Direktur Jenderal Pemberdayaan KP2MI Muh. Fachri saat mewakili Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dalam membuka forum. Ia mengatakan, perlindungan pekerja migran tidak boleh hanya berfokus pada aspek ketenagakerjaan, tetapi juga harus mencakup keluarga dan anak-anak pekerja migran.

“Keberhasilan migrasi bukan hanya diukur dari besarnya remitansi yang dikirimkan, tetapi juga dari kualitas kehidupan keluarga, termasuk anak-anak mereka,” ujarnya.

Fachri mengatakan, pada 2025 remitansi pekerja migran Indonesia mencapai sekitar Rp 28 triliun. Namun, manfaat ekonomi tersebut harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia. Migrasi, kata dia, harus menghasilkan kesejahteraan, bukan melahirkan persoalan antargenerasi. Ketika orang tua bekerja di luar negeri dalam waktu lama, anak dapat menghadapi tantangan pengasuhan, pendidikan, kesehatan mental, hingga risiko kekerasan dan eksploitasi.

Karena itu, perlindungan anak pekerja migran membutuhkan ekosistem yang bekerja dari tingkat desa hingga negara penempatan. Pemerintah memiliki kewenangan, kebijakan, dan data. Sementara diaspora memiliki jaringan, kedekatan dengan komunitas, serta kemampuan menjangkau wilayah yang tidak selalu dapat dijangkau negara.

“Ketika kedua kekuatan ini kita padukan, insyaallah akan menciptakan ekosistem perlindungan yang lebih efektif dan berkelanjutan,” kata Muh. Fachri.

Menurutnya, penguatan data anak pekerja migran juga menjadi bagian penting dari sistem perlindungan. Pendataan ke depan perlu dimulai dari tingkat desa untuk mengetahui warga yang bekerja di luar negeri, anak yang ditinggalkan, usia, akses pendidikan, kesehatan, serta kebutuhan perlindungan lainnya. “Data anak ini bukan hanya sekadar informasi, tetapi sesungguhnya adalah amanah yang harus diintervensi oleh negara,” ujarnya. (yad)

Editor : Chusnul Cahyadi 

Bupati Gresik Bawa Model Perlindungan Anak PMI ke Forum Nasional di Jakarta, Menteri P2MI/BP2MI Anugerahi Penghargaan Kepala Daerah Inspiratif Selengkapnya